Obesitas

OBESITAS/KEGEMUKAN

 

Pernahkah anda membandingkan foto anda saat ini dengan foto yang dibuat sepuluh atau lima belas tahun yang lalu? Adakah perubahan yang ada? Umumnya akan terjadi perubahan dari komposisi tubuh, yang tadinya jauh lebih langsing berubah menjadi lebih banyak komposisi lemak tubuhnya. Dengan bertambahnya usia, biasanya perubahan komposisi tubuh tidak bisa dielakkan. Melarnya tubuh seiring bertambahnya usia bila tidak terkendalikan merupakan awal dari kegemukan/obesitas.

Dewasa ini, obesitas atau kegemukan banyak dihindari oleh banyak orang. Karena selain kurang enak dilihat, obesitas juga menyimpan banyak dampak negatif yang dapat ditimbulkannya. Beberapa sisi negatif tersebut antara lain : tubuh jadi cepat lelah, pernapasan terganggu, bahkan henti napas waktu tidur. Disamping itu, kelewat gemuk dapat membuat tubuh rawan menderita penyakit degeneratif.

Obesitas atau kegemukan adalah istilah yang digunakan untuk menunjukan adanya penumpukan lemak tubuh yang melebihi batas normal. Penumpukan lemak tubuh yang berlebihan itu sering dapat terlihat dengan mudah. Tingkat obesitas ditentukan oleh jumlah kelebihan lemak dalam tubuh. Secara praktis digunakan ukuran berupa perbandingan berat badan terhadap berat badan baku untuk ukuran tinggi tubuh tertentu.

Obesitas sampai saat ini merupakan masalah yang cukup sulit untuk diatasi karena merupakan masalah yang kompleks dan penyebabnya multifaktoral yang menyulitkan penatalaksanaannya. Oleh karena itu prioritas tatalaksana obesitas lebih ditekankan pada upaya pencegahan terhadap munculnya obesitas yang dimulai pada masa anak-anak sebagai upaya pencegahan primer dan menurunkan prevalensi obesitas sebagai pencegahan sekunder dan yang ketiga adalah tatalaksana obesitas dan dampaknya. Untuk melaksanakan upaya pencegahan tersebut,maka perlu dienali criteria obesitas factor penyebab dan dampak obesitas itu sendiri.

Untuk mengukur obesitas digunakan ukuran indeks massa tubuh (IMT). IMT dihitung dari: Berat badan (dalam Kg) dibagi Tinggi badan kuadrat (dalam m2). Kisaran normal IMT Asia-Pasifik 18,5-22,9 kg/m². Jika angka hasil perhitungan lebih dari itu, maka termasuk kelompok berisiko, dan bila IMT di atas 25 kg/m² disebut sebagai obesitas.
Sayangnya Indeks massa tubuh (IMT) tidak mencerminkan distribusi timbunan lemak di dalam tubuh. Untuk menilai timbunan lemak perut dapat digunakan rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang (LP) saja karena lebih praktis. Cara ini mudah, dengan menggunakan pita meteran (seperti yang digunakan oleh penjahit) diukur bagian-bagian tubuh untuk mengetahui banyaknya lemak tubuh.

Tipe Obesitas Berdasarkan Bentuk Tubuh

a. Obesitas Tipe Buah Apel

Pada pria obesitas umumnya menyimpan lemak di bawah kulit dinding perut dan di rongga perut sehingga perut tampak gemuk dan mempunyai bentuk tubuh seperti buah apel (apple type). Disebabkan karena lemak banyak berkumpul dirongga perut, obesitas tipe buah apel disebut juga obesitas sentral, karena banyak terdapat pada laki-laki yang disebut juga sebagai obesitas tipe android.

b. Obesitas Tipe Buah Pear

Kelebihan lemak pada wanita disimpan dibawah kulit bagian daerah pinggul dan paha, sehingga tubuh berbentuk seperti buah pear (pear type). Disebabkan karena lemak berkumpul di pinggir tubuh yaitu di pinggul dan paha, obesitas tipe buah pear disebut juga sebagai obesitas perifer dan karena banyak terdapat pada wanita disebut juga sebagai obesitas tipe perempuan atau obesitas tipe gynoid.

 

 

Gemuk bentuk ‘apel’ lebih berbahaya dibandingkan gemuk bentuk ‘pir’. Yang berbahaya adalah timbunan lemak di dalam rongga perut, yang disebut sebagai obesitas sentral. Mengingat obesitas sentral sering dihubungkan dengan komplikasi metabolik dan pembuluh darah (kardiovaskuler), tampaknya pengukuran Lingkar Pinggang lebih memberi arti dibandingkan IMT. Adanya timbunan lemak di perut tercermin dari meningkatnya Lingkar Pinggang. Sebagai patokan, pinggang berukuran lebih dari 90 cm merupakan tanda bahaya bagi pria, sedangkan untuk wanita risiko tersebut meningkat bila lingkar pinggang berukuran lebih dari 80 cm.

 

1. Tipe Obesitas Berdasarkan Keadaan Sel Lemak

a. Obesitas Tipe Hyperplastik
Obesitas terjadi karena jumlah sel lemak yang lebih banyak dibandingkan keadaan normal, tetapi ukuran sel-selnya tidak bertambah besar. Obesitas ini biasa terjadi pada masa anak-anak.
b. Obesitas Tipe Hypertropik
Obesitas terjadi karena ukuran sel lemak menjadi lebih besar dibandingkan keadaan normal,tetapi jumlah sel tidak bertambah banyak dari normal. Obesitas tipe ini terjadi pada usia dewasa. Upaya untuk menurunkan berat badan lebih mudah dibandingkan tipe hyperplastik.
c. Obesitas Tipe Hyperplastik Dan Hypertropik
Obesitas terjadi karena jumlah dan ukuran sel lemak melebihi normal. Pembentukan sel lemak baru terjadi segera setelah derajat hypertropi mencapai maksimal dengan perantaraan suatu sinyal yang dikeluarkan oleh sel lemak yang mengalami hypertropik, obesitas ini dimulai pada anak-anak dan berlangsung terus sampai dewasa, upaya untuk menurunkan berat badan paling sulit dan risiko tinggi untuk terjadi komplikasi penyakit

 

PENYEBAB OBESITAS

Penyebab obesitas ada yang bersifat endogenous, yang berarti adanya gangguan metabolik di dalam tubuh, dan ada pula yang bersifat exogenous, yaitu konsumsi energi yang berlebihan, salah satunya adalah lemak hewani. Diperkirakan tersimpan energi sebesar 3.500 kilokalori dalam 0,5 kg lemak tubuh penderita obesitas. Satu kali mengonsumsi burger berarti kita memasok energi sekitar 1.000 kkal, sedangkan kebutuhan energi dalam sehari hanya berkisar 2.000 kkal

A. Faktor Makanan

Seseorang mengonsumsi makanan dengan kandungan energi sesuai yang dibutuhkan tubuh, maka tidak ada energi yang disimpan. Sebaliknya jika mengkonsumsi makanan dengan energi melebihi yang dibutuhkan tubuh, maka kelebihan energi akan disimpan sebagai cadangan energi terutama sebagai lemak.

 

B. Karakteristik Individu

Obesitas pada orang dewasa terjadi karena sudah menumpuknya lemak dalam tubuh pada pria dan wanita yang berumur lebih dari 30 tahun. Kurangnya olahraga juga memberikan kontribusi pada kegemukan yang diderita orang dewasa. Jika keadaan terus dibiarkan, maka pada usia 45-60 tahun, biasanya penyakit-penyakit berbahaya sudah mulai mengintai. Jenis obesitas android banyak terjadi pada pria dan wanita yang telah mengalami menopause. Timbunan lemak berada pada bagian atas tubuh. Lebih berisiko terkena penyakit yang berhubungan dengan metabolisme glukosa dan lemak, seperti penyakit gula (diabetes), jantung koroner, stroke, perdarahan otak, dan tekanan darah tinggi.

 

C. Aktivitas Fisik

Kegemukan disebabkan oleh ketidakseimbangan kalori yang masuk dibanding yang keluar. Kalori diperoleh dari makanan sedangkan pengeluarannya melalui aktivitas tubuh dan olah raga. Kalori terbanyak (60-70%) dipakai oleh tubuh untuk kehidupan dasar seperti bernafas, jantung berdenyut dan fungsi dasar sel. Besarnya kebutuhan kalori dasar ini ditentukan oleh genetik atau keturunan. Namun aktifitas fisik dan olah raga dapat meningkatkan jumlah penggunaan kalori keseluruhan.

 

D. Faktor Keturunan

Penelitian pada manusia maupun hewan menunjukan bahwa obesitas terjadi karena faktor interaksi gen dan lingkungan. Gen yang ditemukan diduga dapat mempengaruhi jumlah dan besar sel lemak, distribusi lemak dan besar penggunaan energi untuk metabolisme saat tubuh istirahat. Beberapa pakar berpendapat faktor keturunan hanya berpengaruh terhadap bakat seseorang untuk menjadi gemuk. Obesitas pada orang dengan keturunan obesitas, akan cepat manifes bila mangalami kelebihan asupan energi. Obesitas juga cepat manifes bila keturunan penderita obesitas kurang melakukan aktifitas. Jadi kelebihan asupan makanan dan kurang aktifitas yang menjadi pola kebiasaan hidup tetap merupakan faktor utama penyebab obesitas.

 

E. Faktor Hormon

Menurunnya hormon tyroid dalam tubuh akibat menurunya fungsi kelenjar tyroid akan mempengaruhi metabolisme dimana kemampuan menggunakan energi akan berkurang.

 

F. Gaya Hidup (Life Style) yang kurang tepat

Kemajuan sosial ekonomi, teknologi dan informasi yang global telah menyebabkan perubahan gaya hidup yang meliputi pola pikir dan sikap, yang terlihat dari pola kebiasaan makan dan beraktifitas fisik. Berbagai kemajuan tersebut, maka orang banyak berada di luar rumah dan lebih sering makan di luar rumah dengan mengonsumsi makanan siap saji yang umumnya berkalori tinggi.

Upaya dalam melakukan berbagai kegiatan, karena diperlukan waktu yang cepat, orang lebih banyak menggunakan tenaga mesin misalnya untuk naik ke lantai atas lebih suka menggunakan lift atau escalator, tidak dengan tangga. Pergi dengan jarak dekat orang lebih suka dengan naik mobil daripada jalan kaki dan karena aktifitas sehari-hari yang sibuk, orang tidak sempat melakukan olah raga. Pola kurang aktif ini menyebabkan kurangnya penggunaan energi tubuh.

BAGIKAN